(Review ini ditulis dengan anggapan pembaca review sudah pernah membaca novel Harry Potter, jadi akan ada SPOILER)
Dua tahun. Penantian terpanjang para penggemar Harry Potter usai sudah ketika film keenam dalam salah satu franchise tersukses sepanjang sejarah ini dirilis. Selama ini film Harry Potter selalu ditunjang dengan bukunya. Hampir di setiap tahun di mana film Harry Potter dirilis, novelnya juga dirilis. Tentu saja ini membangun hype untuk setiap filmnya. Film terakhir yang mendapat keuntungan ini adalah Order of the Phoenix yang dirilis bertepatan dengan diterbitkannya Deathly Hallows. Pertanyaan di benak tiap orang kini satu: “Dengan berakhirnya seri novelnya, juga dengan hadirnya saingan baru macam Twilight, apakah pesona Harry Potter sudah habis?”. Pada saat saya menulis review ini, semua orang tentu sudah tahu jawabannya. Sang bocah penyihir sekali lagi bertahta di puncak Box Office, dan mungkin akan menjadi film terlaris seluruh dunia tahun ini.
Akhir film kelima meninggalkan luka batin yang dalam bagi Harry. Tidak saja ia kehilangan Sirius, ia juga sempat terpengaruh oleh Voldemort sebelum ditolong oleh Dumbledore. Hilang semangat Harry ini tidak luput dari perhatian Dumbledore. Guna mengangkat semangat Harry, ia mengajak muridnya untuk merekrut seorang guru baru di Hogwarts: Professor Horace Slughorn. Dumbledore percaya bahwa satu-satunya kunci untuk bisa mengalahkan Voldemort terletak pada memori Slughorn. Sayangnya, Slughorn tidak mau buka mulut - bahkan mengubah memorinya sendiri supaya orang tidak tahu kenyataannya. Dumbledore ingin Harry bisa ‘mendekati’ Slughorn, menjadi murid nomer satunya dan merayu Slughorn buka mulut. Tugas ini sulit mengingat Harry bukan murid jempolan dalam bidang Ramuan. Pertolongan datang tiba-tiba dari sebuah buku Ramuan milik seorang murid misterius yang menjuluki dirinya “Half-Blood Prince”. Mengikuti petunjuk di buku tersebut, Harry langsung menjadi yang terbaik - mengungguli bahkan Herminone sekalipun! Toh masalah Harry tidak hanya itu saja. Adrenalin remajanya kembali bergolak. Usai putus dengan Cho tahun lalu, Harry dan Ginny (adik Ron) semakin dekat. Selain mereka berdua, Hermione dan Ron juga mulai merasakan percik-percik asmara antara keduanya. Nampaknya tahun keenam Harry tidak hanya akan diisi oleh petualangan dan aksi - tetapi juga drama dan cinta!
David Yates saya anggap sukses dalam memadukan unsur drama dan misteri dalam film ini. Misteri mengenai masa lalu Voldemort dan bagaimana Harry berusaha mengorek kebenaran dari Professor Slughorn dilakukan secara pelan tapi pasti. Di sela-sela penyelidikan Harry, Yates juga bisa menyisipkan unsur drama. Saya senang bagaimana Ginny berperan lebih aktif dalam film ini seakan menjadi anggota keempat dari trio utama. Salah satu koneksi yang unik dari film ini dengan para prekuelnya adalah Ginny adalah sosok yang sempat dipengaruhi buku harian Voldemort. Wajar kalau sekarang ia merasa cemas Harry mengikuti petunjuk-petunjuk dari sebuah buku yang tidak jelas asal-usulnya. Yates juga saya nilai mampu menghidupkan adegan-adegan yang menunjukkan kuatnya persahabatan trio Harry - Ron - Hermione, (SPOILER ALERT) seperti di saat Hermione patah hati dan Harry duduk di sana untuk menemani dan mendengarkan isak tangisnya. Tentu saja adegan-adegan sederhana seperti ini memiliki efek emosi yang besar karena Radcliffe, Watson, dan Grint benar-benar sudah total dalam peran mereka. Saya rasa image ketiganya sudah terlalu lekat dengan peran mereka di Harry Potter sehingga sampai kapanpun saya selalu bakal mengasosiasikan ketiganya dengan sosok penyihir mereka.
Sayangnya walaupun saya ingin menyukai film ini ada kesalahan besar yang dilakukan Yates sehingga menghancurkan semua jerih payahnya. Klimaks dari film ini benar-benar datar dan anti-klimaks! Saya kecewa sekali melihat perang di Hogwarts di akhir film dihilangkan. Menurut Yates, ia takut ini akan berulang dan membuat penonton bosan (karena di buku terakhir juga ada perang di Hogwarts). Saya rasa ini pendapat yang sangat - sangat keliru. Lihat Lord of the Rings, tidakkah film tersebut juga tentang perang fantasi medieval? Apakah membuat orang bosan? Saya sendiri masih kecewa dengan bagaimana Yates menangani perang para penyihir di akhir Order of the Phoenix dan berharap ia akan menebusnya di film ini, apa daya Yates malah ‘merampok’ dan menghilangkan total adegan penting tersebut. Saya mungkin masih bisa memaafkan Yates kalau ia menggunakan waktu itu untuk berkabung bagi Dumbledore, tetapi lagi-lagi Yates tidak melakukannya - ia bahkan melompati adegan pemakaman kepala sekolah Hogwarts itu! Dua titik vital yang gagal digarap Yates dalam Order of the Phoenix adalah perang para penyihir dan kematian Sirius Black; lagi-lagi ia gagal total dalam Half-Blood Prince. Semoga ia bisa memperbaiki kesalahan ini sebelum selesai menyutradarai Deathly Hallows.
